PELAWAT MAYA

Sunday, November 21, 2010

PEPALIH MENANTU KOME?







PEPALIH MENANTU KOME?
Sajen Arisel Ba

Si Bujak Korporat KL akhirnya terpikat
Dengan nina desa hulu, bukannya dekat
Wajahnya mirip artis menggelentat
Bila borok suaranya goge, biroh sangat

Rombongan Si Bujak Korporat KL pun datang
Gadis-gadis menatang dua puluh tujuh dulang,
Setiba pengantin lelaki, sakan berbalas pantun
Wakil lelaki gagal jawab, lalu kena lantun

Bila mula acara akad nikah di serambi
Si Bujak Korporat KL melafaz 70 kali
Rupanya bebudak letak katak di bawah rumah
Berpeluh pengantin, Tok Bomoh berserapah

Lepas bersanding, joget bertandak sampai pagi
Dua mempelai bergegas ke bilik, ahhrrgh geli!
Hampir Subuh pengantin lelaki nak meronoh
Ke sungai melalui tanah kubur, takut leweh

Si Manis melenting bentang gebor di lantai
“ Aok meronoh aje atas gebor ni,
dan nanti kita bingkas pagi-pagi
bawak gebor basuh kat sungai”

Bila mempelai terjaga, mentari dah tinggi
Bergegas deme seronyih ke sungai nak mandi
Cepat MakMertua masuk bilik nak periksa
Cari petanda masih dara si nina bonda

Sambil memeriksa mata meliar, terhidu bau
Lalu lihat gebor bawah katil, dibuka dulu
Apa lagi Mak Mertua goge, satu desa tahu
“ Terberak aok nina, pepalih menantu kome?..”


12.11.2003 – 18.11.2010
Kuantan, Pahang

Saturday, November 13, 2010

ADUH MAK, SEKAKI!


ADUH MAK!, SEKAKI

Sajen Arisel Ba


Selepas majlis kahwin

Di desa pedalaman

Sekeluarga gegak gempita sekali

Gara-gara ‘Aduh Mak!, sekaki!


‘Begini ceritanya:

Si Leha bunga ranum sedesa

Berkahwin dengan Atan Perkasa

Si Atan, mantan perwira tugas di Bosnia


Apabila selesai kenduri sekampung

Dan tetamu telah pulang

Malam itu sekeluarga merai menantu

Selesai Isyak pengantin masuk beradu


Tiba-tiba terdengar jeritan si Leha:

“ Aduh Mak! Sekaki!…. “ jerit Si Leha

“ Ayah kamu enam inci aje!, untunglah”

“ Aduh Mak! Sekaki!… “ jerit Si Leha lagi


Si Leha meratap meluru keluar bilik

Ibunya terpinga, heran dan bertanya:

“ Kenapa? ganas sangat ke!, sabar”, pujuk ibunya

“ Tidak Mak! Abang ada satu kaki!”


23 April 2005

Kuantan, Pahang

CURI DENGAR

CURI DENGAR
Sajen: Arisel Ba

Jiran sebelah rumah, baru pindah,
namanya Jusoh mendiami rumah murah
Saban malam Jusoh berbual dengan isterinya
Suara jirannya bercakap ungkapan sama
Apabila jam dua belas malam suasana tenang
Suara jiran mula terdengar sedang bersembang
“ Munah, tanggal selipar, aku nak naik,”, seru suami
“ Basuh kaki dulu, baru naik, “ sampuk isteri
“ Bang Mat, makanan dah terhidang,” seru isteri
“ Buka tudung saji, amboi, berselera,” tukas suami

Aku buka cuping telinga cuba mengamati
Sepi hanya dengus nafas bagai pelumba lari

Sejam kemudian aku terdengar lagi suara jiran
“ Aku dah kenyang, nak basuh tangan,” kata suami
“ Munah pun nak pergi mandi, “ jawab isteri
Aku tercenung dan hairan karenah jiran

8 November 2010
Kuantan, Pahang

Thursday, October 7, 2010

FENOMENA SASTRA INDONESIA MUTAKHIR

FENOMENA SASTRA INDONESIA MUTAKHIR: KOMUNITAS DAN MEDIA (Bagian-1)

oleh Nanang Suryadi pada pada 07hb Oktober 2010 pukul 2.49 ptg
Oleh: Nanang Suryadi

Meneropong sastra Indonesia mutakhir, tidak cukup hanya berbicara perkembangan satu dua tahun terakhir. Walaupun mungkin selama setahun dua tahun terakhir ada suatu perkembangan hebat yang terjadi. Fenomena komunitas sastra, misalnya, sebenarnya bukan merupakan hal yang baru di jagad sastra Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun lalu Komunitas Sastra Indonesia sudah mengidentifikasi berbagai komunitas sastra (seni dan budaya) yang ada di tanah air. Lebih jauh lagi, komunitas-komunitas sastra ini sudah dapat kita temui dalam sejarah sastra Indonesia sejak jaman sebelum kemerdekaan, misalnya Pujangga Baru. Hanya saja mereka tidak menggunakan kata ”komunitas”. Saya melihatnya sebagai suatu yang sama saja yaitu para peminat seni (khususnya sastra) yang berkelompok mendiskusikan banyak hal, dari hal serius hingga hal yang remeh, baik terjadwal maupun tidak.

Pada tahun 1940an Chairil Anwar dkk berinteraksi dalam Gelanggang Seniman Merdeka, yang melahirkan Surat Kepercayaan Gelanggang. Pada 1950-1960an, kita juga bisa menemui Lekra, Lesbumi, yang walaupun berpatron pada partai atau ormas, bisa kita sebut sebagai komunitas juga. Kelompok diskusi Wiratmo Soekito yang diikuti oleh Goenawan Mohamad dkk merupakan sebuah komunitas, yang pada akhirnya melahirkan Manifesto Kebudayaan.

Aktivitas menulis karya sastra merupakan hal yang sangat individual. Pengakuan atas karya sastra pada umumnya merupakan pengakuan terhadap karya individu penulis. Sebuah cerpen, puisi atau novel jarang sekali dibuat oleh lebih dari satu orang (jarang, bukan berarti tidak ada). Maka dimana peran atau pengaruh komunitas dalam penulisan karya sastra, jika menulis adalah aktivitas individu?

Pergesekan pemikiran dalam komunitas memberikan wawasan bagi para penulis yang terlibat di dalamnya. Kecakapan-kecakapan menulis dapat ditularkan dengan saling belajar pada rekan satu komunitas. Inilah peran dari adanya sebuah komunitas, saling belajar dan saling berbagi.

Komunitas-komunitas sastra yang ada memiliki ciri yang hampir sama, yaitu: komunitas itu akan terus hidup jika ada individu yang sukarela menggerakkan komunitasnya. Paling tidak ada satu sampai tiga orang yang memiliki semangat untuk menjalankan aktivitas komunitas, maka komunitas itu akan berjalan.

Sekarang kita lihat fenomena apa yang membedakan komunitas sastra pada beberapa tahun terakhir dengan komunitas-komunitas sastra di tahun 90-an dan sebelumnya.

Teknologi informasi membawa dampak perubahan terhadap pola interaksi di masyarakat. Pada akhir 90-an teknologi informasi berupa internet memberikan peluang kepada masayarakat luas untuk dapat berkumpul dalam suatu komunitas tanpa harus hadir secara fisik. Melalui jaringan internet, para peminat sastra membentuk komunitas yang melintasi batas geografis. Komunitas komunitas sastra di dunia maya mulai muncul sejak akhir tahun 90an melalui mailing list. Contoh komunitas sastra melalui mailing list yang berdiri di akhir 90an adalah: penyair@yahoogroups.com, puisikita@yahoogroups.com, gedongpuisi@yahoogroups.com, bungamatahari@yahoogroups.com, bumimanusia@yahoogroups.com musyawarah_burung@yahoogroups.com, dan banyak mailing list lain yang menyusul di tahun 2000an, seperti sastra_pembebasan dan apresiasi_sastra@yahoogroups.com.

BERSAMBUNG KE BAGIAN 2

Monday, September 27, 2010

NAMAKU TSUNAMI

NAMAKU TSUNAMI
Puisi Arisel Ba

Namaku Tsunami tumbuh dari lubuk lautan lalu menyihir ombak gergasi menyaingi lembah dan gunung dan mengampuh daratan pinggir laut dan pulau-pulau, manusia, tua, dewasa, muda, remaja, anak kecil pun tenggelam bersama sampah sarap, bangunan, kereta, rumah, segala bot dan perahu dan ajal maut lebih hamis dari ikan, sotong, udang, penyu lalu memasuki nurani puisiku, kemudian merobek dan merobohkan nurani duka bumi bertaburan mayat dan bangkai membusuk.

Namaku Tsunami telah bangkit dari lena yang panjang dari lubuk lautan membawa ajal maut lalu terkesiap bumi di Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Malaysia dan Maldives yang berpunca dari Aceh, nurani puisiku pintar membidik apa saja, siapa saja terlontar, terlantun bagai satu kepalan pembunuh.

Dipinggir pantai enam negara, jangan persoalkan warna pakaian masing-masing, jangan persoalkan kepercayaan masing-masing, apakah mereka ahli masjid atau gereja, apakah mereka pemuja berhala di kuil atau to’kong, atheis berakal bebas penyanjung dewa atau Allah Yang Maha Esa, mereka tentunya tidak sempat bertanya apakah yang sedang bertempur meledakkan gempa mewujud gelombang Tsunami di mana kehidupan sedang terancam, apakah nanti setiakawan bangsa melebur dan hancur.

Namaku Tsunami telah bangun dari lena yang panjang dari lubuk lautan dan mengamuk bagai raksasa ganas di mana apa yang menghadang akan dilandanya, manusia yang terpinga-pinga dan hairan cuba menghadang terus tewas dan jasad berkubur di air laut asin yang panas, lalu apakah nurani mereka pasrah atas takdir dari Allah, tanda-tanda kiamat sudah berada di depan mata, sekadar doa dan pasrah.

26 Disember 2004
Taman Tun Perak, Cheras,
Kuala Lumpur

BERCERITA ANAK TIRAM DAN MUTIARA

BERCERITA ANAK TIRAM DAN MUTIARA
Puisi Arisel Ba

Anak tiram mengeluh berat terhadap ibunya akibat sebutir kerikil tajam menusuk tubuhnya "Anakku," kata sang ibu dengan air mata bercucuran "Tuhan tidak memberi sepasang tangan pun, sehingga tidak terdaya ibu menyelamatkan kamu." Si ibu terdiam,

"Pasti sakit sekali, aku tahu anakku terimalah itu sebagai takdir alam hidupmu, perkasakan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kukuhkan semangatmu melawan ngilu nyeri, balutlah kerikil itu dengan cecair perutmu, hanya itu yang boleh kau perbuat", Kata ibunya sayu, sendu dan lembut.

Anak tiram pun ikut nasihat ibunya, ada hasilnya, tetapi rasa sakit teramat sangat, dengan air mata ia bertahan, bertahun lamanya, tetapi tidak disedarinya sebutir mutiara terjelma, makin lama makin hilang rasa sakitnya, dan semakin lama mutiara itu membesar, rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah beberapa tahun, sebutir mutiara besar, utuh gemerlapan, deritanya berubah menjadi mutiara; air matanya menjadi sangat berharga, dirinya kini, hasil derita bertahun-tahun,lebih berharga daripada sejuta tiram lain yang disantap sebagai tiram rebus pinggir jalan.

Februari 2005 – September 2010
Kuantan, Pahang

BERCERITA SUNGAI PAHANG DAN PASIRNYA

BERCERITA SUNGAI PAHANG DAN PASIRNYA
Puisi Arisel Ba

Sungai Pahang, asalmu dari puncak Gunung Tahan mengalir berabad lama melintasi ngarai dan tebing, akhirnya melalui bukit dan lembah luas terbentang, malangnya airmu gagal menakluki pasir di tebing atau dasar sungai, setiapkali melintasinya, airnya sirna ke dalam pasir, sungai akur dengan takdir, airnya diserap pasir. Sungai Pahang mendengar bisikan pasir," Angin boleh merentasi pasir, sungai pun pasti boleh menggusur pasir sampai ke muara?",

Sungai Pahang menolak bisikan, nanti bimbang hilang jati dirinya, "Jika kau terus menakluki perbukitan dan lembah menghanyutkan pasir, airmu tetap menyerap tebingan dan kau tidak akan tiba ke muara, menjelma rawa-rawa, kau harus mengizinkan angin mendukungmu sederap menyeberangi perbukitan dan lembah, terus menuju muara!," kata Pasir.

Sungai Pahang mendiamkan diri dan mencanai akal bicara, dan kalau dirinya itu lenyap, pasti tidak kembali lagi? "Angin," kata Pasir, "menunaikan tugas itu, kamu membawa air, terbang di atas dadaku, jatuh ke bumi bagai hujan, dan menjatuhkannya lagi, pasti air itu menjadi sungai." Sungai tidak mahu dirinya diserap angin, bimbang hilang jati diri Sungai Pahang bermuara.

"Bagaimana aku boleh yakin bahawa itu benar belaka?".

"Memang benar, dan kalau kau tidak percaya, kau hanya rawa-rawa gersang hingga akhir zaman?".

"Tapi, tidakkah aku tetap sebagai Sungai Pahang, seperti kini?".

"Apapun terjadi, kau tetap bergelar Sungai Pahang," bisik pasir. " Intimu dibawa terbang, dan membentuk sungai nanti, kau dipanggil juga sungai, sebab kau pasti tidak mengetahui asalmu itu di mana intinya," dan sungai pun melonjakkan wapnya mengudara, angin setangkas mengangkat menerbangkannya, bebas merintik lembut tatkala atap gunung digapai dan kerana pernah meragukan kebenaran, Sungai Pahang mengingatkan kembali pengalamannya dan merenungkannya.

"Ya, kini aku mengenal siapa diriku sebenarnya", Sungai Pahang membijaksanakan akalnya, namun Pasir berbisik, "Kami tahu sebab kami menyaksikannya saban hari; dan kami, pasir ini, terbentang di bawah lapisan tanah, jika tiada airmu, pasir pasti tidak menatap langit."

Januari 2005 – September 2010
Kuantan, Pahang